Makna dan Jenis Afiksasi
Pendahuluan
Sebelum kita membahas apa itu Afiksasi, kita harus tahu dulu apa
itu Afiks? Afiks adalah morfem terikat yang dilekatkan pada morfem dasar atau
akar (Fromkin dan Rodman, 1998:519). Pembahasan mengenai Afiks dapat ditemukan
dalam setiap buku linguistik umum dan morfologi. Namun demikian, pembahasan
dalam buku-buku tersebut masih bersifat kurang menyeluruh dan berbeda-beda. Hal
ini dapat disebabkan oleh terbatasnya jenis Afiks dari bahasa yang dianalisis
atau belum adanya analisis yang lebih mendalam mengenai Afiks.
Afiks adalah proses pembubuhan Afiks pada suatu satuan, baik berupa
satuan tunggal maupun kompleks untuk membentuk kata. Afiksasi adalah salah satu
dari tiga proses morfologi, yang terdiri dari afiksasi, reduplikasi dan proses
pemajemukan.
Rumusan Masalah
Tujuan dalam penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui sedikit
banyak tentang Afiks dan proses pembubuhan Afiks (Afiksasi) serta contoh-contoh
pembubuhan Afiks tersebut.
Pemahaman tentang Afiks dan Afiksasi akan lebih baik apabila tidak
mengabaikan bentuk dasarnya, baik satuan tunggal maupun satuan kompleks
1.
Pengertian Afiksasi?
2.
Apa saja macam-macam Afiksasi
Pembahasan
Kita tentunya telah mengetahui wujud morfem afiks atau morfem
imbuhan ini, bukan? Namun, barang kali
kita belum paham benar apa sebenarnya afiks itu. Beberapa ahli linguistik
memberikan definisi tentang afiks. Menurut Matthews (1997:11), afiks adalah
unsure apa pun pada struktur morfologis yang ada pada kata dan bukan termasuk
akar.[1]
Definisi lain, yang dikemukakan Mansur Muslih, Afiks adalah bentuk kebahasaan
terikat yang hanya mempunyai arti gramatikal, yang merupakan unsur langsung
suatu kata, tetapi bukan merupakan bentuk dasar, yang memiliki kesanggupan
untuk membentuk kata-kata baru.[2]
Afiksasi atau pengimbuhan adalah proses morfologi yang
mengubah sebuah leksem menjadi kata setelah mendapat afiks, yang dalam bahasa
kita cukup banyak jumlahnya.[3] Abdul
Chaer mendefinisikan Afiksasi sebagai salah satu proses dalam pembentukan kata
turunan baik berkategori verba, berkategori nomina maupun yang berkategori
ajektiva.[4] Pada
umumnya, Afiks (imbuhan) yang sering dikenal ada empat, yaitu prefiks (awalan),
sufiks (akhiran), infiks (sisipan), gabungan prefiks dan sufiks (konfiks). [5]
Dalam sumber lain disebutkan ada 6 macam afiks, yaitu prefiks, sufiks, infiks,
konfiks, interfiks, dan tranfiks.[6] Harimurti
Kridalaksana menyebutkan jenis afiks ada 7, yaitu prefiks, infiks, sufiks,
simulfiks, konfiks, superfiks atau suprafiks, dan kombinasi afiks.[7]
Berikut adalah jenis-jenis afiks:
Ø
Prefiks (sa:biqoh) adalah
afiks yang ditempatkan di bagian muka suatu kata dasar.
·
Afiks pembentuk verba: prefiks me-, ber-, per-,
ter-, ke-, se-,
Ø
Verba berprefiks ber- memiliki makna
gramatikal ‘mengendarai’, ‘menumpang’atau ‘naik’
Contoh: bersepeda ‘mengendarai sepeda’.
Berkuda ‘naik kuda’.
Berkereta ‘menumpang kereta’.
Berbemo ‘naik bemo’.
Ø
Verba berprefiks ber- memiliki makna
gramatikal ‘berisi’ atau ‘mengandung’.
Contoh: berkuman
‘mengandung kuman’.
Berair
‘berisi air’.
Berdarah
‘mengandung darah’.
Ø
Verba berprefiks ber- memiliki makna
gramatikal ‘mengeluarkan’ atau menghasilkan’.
Contoh: berproduksi
‘menghasilkan produksi’.
Bertelur
‘menghasilkan telur’.
Ø
Verba berprefiks ber- memiliki makna
gramatikal ‘mengusahakan’ atau ‘mengupayakan’.
Contoh: berladang
‘mengusahakan ladang’.
Beternak ‘ mengusahakan ternak’.
Ø
Verba berprefiks –ber memiliki makna
gramatikal ‘melakukan kegiatan’.
Contoh: berdebat
‘melakukan debat’.
Bersenam
‘melakukan senam’.
Ø
Verba berprefiks ber- memiliki makna
gramatikal ‘mengalami’ atau ‘berada dalam keadaan’.
Contoh: bergembira
‘dalam keadaan gembira’.
Bersedih
‘dalam keadaan sedih’.
Ø
Verba berprefiks ber- memiliki makna
gramatikal ‘menyebut’ atau ‘menyapa’.
Contoh: beradik
‘memanggil adik’.
Berkakak
‘menyebut kakak’.
Ø
Verba berprefiks ber- memiliki makna
gramatikal ‘kumpulan’ atau ‘kelompok’.
Contoh: berdua
‘kumpulan dari dua (orang)’.
Berempat ‘kumpulan dari empat (orang)’.
Ø
Verba berprefiks ber- memiliki makna
gramatikal ‘memberi’
Contoh: bersedekah ‘memberi sedekah’.
Berkhutbah
‘memberi khutbah’.
·
Afiks pembentuk adjectiva: prefiks se-,
ter-, ber-, me-, pe-,
Ø
Adjectiva memberi makna gramatikal
‘sama dengan nomina yang mengikutinya’.
Contoh: Sepintar A,
‘sama pintar dengan A’.
Secantik
B, ‘sama cantik dengan B’.
Ø
Adjectiva berprefiks ter- memberi
makna gramatikal ‘paling (dasar) ‘.
Contoh: tercantik,
‘paling cantik’.
Tertinggi
, ‘paling tinggi’.
·
Afiks pembentuk nomina: prefiks ke-,
pe1-, pe2, per-, se-,
Ø
Nomina berprefiks ke- sejauh data
yang ada hanyalah ada tiga buah kata, yaitu ketua, kekasih, dan kehendak dengan
makna gramatikal’ yang dituai’, ‘yang dikasihi’, dan ‘yang dikehendaki’.
Ø
Ada dua macam proses pembentukan nomina dengan
prefiks pe-
1.
Nomina berprefiks pe- yang mengikuti
kaidah persengauan dapat berbentuk pe-, pem-, pen-, per-, peng-, peny-, dan
penge-. Persengauanya sama dengan persengauan pada prefiks me-.
Contoh:
§
Perawat (verba: merawat)
§
Pembina (verba: membina)
§
Pendengar (verba:mendengar).
§
Perakit (verba: merakit)
§
Pengirim (verba: mengirim)
§
Penyakit (verba: menyakiti)
2.
Nomina berprefiks pe- yang tidak
mengikuti kaidah persengauan berkaitan dengan verba berprefiks ber- atau verba
berklofiks memper-kan yang dibentuk dari dasar itu. Makna gramatikal yang
dimiliki adalah ‘yang ber-(dasar)’.
Contoh: peladang (dari
sdasar ladang melalui verba berladang).
·
Afiks pembentuk adverbia: prefiks se-,
·
Afiks pembentuk numeralia: prefiks ke-,
ber-,
Ø
Sufiks (la:hiqoh) adalah
morfem terikat yang digunakan di bagian belakang kata atau dilekatkan pada
akhir dasar. Morfem terikat seperti –an,-man -kan, dan –I
adalah contoh sufiks atau akhiran. Misalnya, -an (makan-an), -kan
(main-kan), -I (tabur-i), dan lain-lain.`
·
afiks pembentuk verba: sufiks-in,
·
afiks pembentuk adjectiva: sufiks-an,
-al, -il, -iah, -if, -ik-, -is, -istis,-i.
·
afiks pembentuk nomina: sufiks-an,
-at, -si-, -ika, -in, -ir, -ur, -ris, -us, -isme, -is, -isasi, -isida, -ita,
-or, -tas.
·
afiks pembentuk numeralia: sufiks-an,
·
Afiks pembentuk introgativa: sufiks -an,
Ø
Infiks (da:khilah) adalah
afiks yang diselipkan di tengah kata dasar. Bentuk seperti –er-, -el-, -em-,dan
-in- pada gerigi, geletar,gemetar, dan kinerja adalah infiks
atau sisipan.
·
Afiks pembentuk adjectiva: Infiks -em-,
-in-,
·
Afiks pembentuk nomina: Infiks -el-,
-er-,
Ø
Konfiks (gabungan prefiks dan
sufiks).
·
Afiks pembentuk verba: konfiks
ber-R, ber-R-an, ber-an, ber-kan, ke-an dan per-kan.
Verba berkonfiks ber-an memiliki makna gramatikal:
1.
‘Banyak serta tidak teratur’.
Contoh: berlarian, artinya ‘banyak yang berlari dan tidak teratur’.
2.
‘Saling’ atau ‘berbalasan’. Contoh:
bersentuhan, artinya ‘saling bersentuhan’.
3.
‘saling berada di’. contoh:
berhadapan, artinya ‘saling berada di hadapan’.
Verba
berkonfiks per-kan memiliki makna gramatikal:
1.
‘jadikan bahan per-an’. Contoh: perdebatkan,
artinya ‘jadikan bahan perdebatan’.
2.
‘lakukan supaya (dasar)’. Contoh:
pertegaskan, artinya ‘lakukan supaya tegas’.
3.
‘jadikan me-‘. Contoh: perlihatkan,
artinya ‘jadikan (orang lain) melihat’.
4.
‘jadikan ber-‘. Contoh: pertemukan,
artinya ‘jadikan bertemu’.
Verba
berkonfiks ke-an memiliki makna gramatikal:
1.
‘terkena, menderita, mengalami
(dasar) apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+peristiwa alam) atau
(+hal yang tidak enak). Contoh:
Kebanjiran, artinya ‘terkena banjir’.
Kebakaran, artinya ‘menderita bakar’.
Kecopetan, artinya ‘terkena copet’.
2.
‘agak (dasar)’ apabila bentuk
dasarnya memiliki komponen makna (+warna). Contoh: kehijauan, artinya ‘agak
hijau’.
·
Afiks pembentuk adjektiva:konfiks
ke-an.
Ada sejumlah makna gramatikal yang dimiliki dasar adjektifa bila
diberi konfiks ke-an. Di antaranya adalah:
1.
Bermakna gramatikal ‘terlalu
(dasar)’ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+warna), (+rasa) atau
(+ukuran).
Contoh:
Kehitaman, artinya ‘terlalu hitam’.
Kekecilan, artinya ‘terlalu kecil’.
Kekenyangan, artinya ‘terlalu kenyang’.
2.
Bermakna gramatikal ‘hal (dasar)’
apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+sikap batin). Contoh:
Ketakutan, artinya ‘hal takut’.
Kesedihan, artinya ‘hal sedih’.
3.
Bermakna gramatikal ‘mengalami (dasar)’
apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+rasa fisik). Contoh:
kedinginan, ‘mengalami dingin’.
·
Afiks pembentuk nomina: konfiks
ke-an,pe-an, per-an.
·
Afiks pembentuk adverbial: konfiks
se-nya, se-R-nya,
·
Afiks pembentuk numeralia:konfiks
ber-an.
Ø
Interfiks adalah suatu jenis infiks
yang muncul di antara dua unsur. Dalam bahasa Indonesia Interfiks terdapat pada
kata-kata bentukan baru, misalnya: interfiks –n- dan –o- . contoh:
Indonesia + logi àIndonesianologi.
Ø
Tranfiks adalah jenis infiks yang
menyebabkan kata dasar menjadi terbagi-bagi. Bentuk ini terdapat dalam
bahasa-bahasa Afro-Asiatika, antara lain terdapat dalam bahasa Arab.
Contoh:
nshr –a-a, à nashara
dzhb-a-a à dzahaba.
Ø
Simulfiks, yaitu afiks
yang dimanifestasikan dengan ciri-ciri segmental yang dileburkan pada dasar.
Dalam bahasa Indonesia simulfiks dimanifestasikan dengan nasalisasi dari fonem
pertama suatu bentuk dasar, dan fungsinya ialah membentuk verba atau
memverbalkan nomina, ajektiva atau kelas kata lain. Contoh berikut terdapat
dalam bahasa Indonesia non-standar: kopi—ngopi, soto—nyoto, sate—nyate,
kebut—ngebut.
Ø
Superfiks atau
suprafiks, yaitu afiks yang dimanifestasikan dengan ciri-ciri suprasegmental
atau afiks yang berhubungan dengan morfem suprasegmental. Afiks ini tidak ada
dalam bahasa Indonesia. Superfiks atau suprafiks dapat kita jumpai dalam bahasa
Batak Toba, misalnya dalam kata asom ‘jeruk’ (nimona) dan asom
‘asam’ (ajektiva). Dalam bahasa Batak Toba, tekanan morfemis adalah suprafiks.
Dalam bahasa Jawa peninggian vokal pada suku terakhir suatu ajektiva bersifat
morfemis.
Vokal
tinggi kita jumpai dalam: suwe ‘lama’ dan suwi ‘lama sekali’
Peninggian
vokal dalam bahasa Jawa dapat dianggap sebagai ciri suprasegmental dan dapat
dijadikan contoh suprafiks.
Ø
Kombinasi afiks, yaitu kombinasi
dari dua afiks atau lebih yang bergabung dengan dasar. Afiks ini bukan jenis
afiks yang khusus, dan hanya merupakan gabungan beberapa afiks yang mempunyai
beberapa bentuk dan makna gramatikal tersendiri, muncul secara bersama pada
bentuk dasar, tetapi berasal dari proses yang berlainan. Contoh:
·
Memperkatakan: sebuah bentuk dasar
dengan kombinasi tiga afiks, dua prefiks dan satu sufiks.
·
Mempercayakan: sebuah bentuk dasar
dengan kombinasi dua afiks, satu prefiks, dan satu sufiks.
Dalam
bahasa Indonesia kombinasi afiks yang lazim ialah me-kan, me-I, memper-kan,
memper-I, ber-kan, ter-kan, per-kan, pe-an, dan se-nya.
FUNGSI AFIKSASI DALAM PENERJEMAHAN
Terjemahan berkualitas adalah yang
mudah difahami oleh pembaca, yaitu memiliki tingkat keterfahaman yang tinggi. Salah
satu ukuran untuk mengetahui suatu terjemahan itu sudah tepat atau belum bisa
juga dilihat dari segi perubahan afiksasinya. Seorang penerjemah yang baik,
penting sekali menguasai dan memahami afiksasi. Hal ini diperlukan untuk
memfasilitasi pemahaman terhadap makna sebuah teks, yang secara otomatis akan
merubah pada makna masing-masing kata yang akan dibentuk.
Dalam bahasa Arab dikenal pola-pola
sebagai berikut: tunggal (mufrad), dual (mutsanna), dan plural (jama’).
Bentuk plural terbagi menjadi tiga: maskulin-teratur (jama’ mudzakkar),
feminin-teratur (jama’ mu’annatsa), netral-salin suara, yang dibentuk
dari perubahan internal kata, biasanya dengan perubahan prefiks dan sufiks (jama’
taksir).
Bentuk dual ditandai dengan sufiks ان- /a:ni/ untuk kasus nominative, dan sufiks ين - /aini/ untuk
kasus genitive dan jusif, seperti كتاب /kita:b/ ‘satu buku’ menjadi كتابان
/kita:ba:ni/ ‘dua buku’. Bentuk plural teratur maskulin (jama’ mudzakkar Sali:m),
ditandai dengan sufiks ون - /u:na/ pada kasus nominative dan sufiks ين - /i:na/ untuk
kasus genitive dan kasus akusatif, seperti معلم /mu’allim/ ‘satu guru (lk)’ menjadi معلمون
/mu’allimu:na/ ‘para guru’. Bentuk plural teratur feminine (jama’ mu’annats
Sali:m), ditandai dengan sufiks ات - /a;tin/ untuk kasus genitive dan
akusatif, seperti معلمة /mu’allimah/ ‘satu guru (pr) menjadi معلمات /mu’allima:tun/ ‘para guru (pr)’.
Selain itu,
pola-pola yang mengalami afiksasi terdapat juga pada verba (fi’l)
berikut:
a.
Infleksi
pada verba perfektif (al-tashri:f al-lughawi: pada fi’l ma:dhi:)
Infleksi pada verba perfektif bahasa Arab terjadi apabila verba tersebut
disandingi sufiks pronominal terikat (dhami:r muttasil) yang berfungsi
sebagai pemarkah subjek.
Kategori
|
Tunggal
|
Dual
|
Jamak
|
|||
Fem.
|
Mask.
|
Fem.
|
Mask.
|
Fem.
|
Mask.
|
|
Orang III
|
كَتَبَتْ
|
كَتَبَ
|
كَتَبَتِا
|
كَتَبَا
|
كَتَبْنَ
|
كَتَبُوْا
|
هي
|
هو
|
هما
|
هنّ
|
هم
|
||
Orang II
|
كَتَبْتِ
|
كَتَبْتَ
|
كَتَبْتُما
|
كَتَبْتُنَّ
|
كَتَبْتُمْ
|
|
أنتِ
|
أنتَ
|
أنتما
|
أنتنّ
|
أنتم
|
||
Orang I
|
كَتَبْتُ
|
كَتَبْنَا
|
||||
أنا
|
نحن
|
|||||
b.
Infleksi
pada verba imperfektif (al-tashri:f al-lughawi: pada fi’l mudha:ri)
Infleksi pada verba imperfektif bahasa Arab
terjadi apabila verba tersebut disandingi konfiks pronomina terikat (dhami:r
muttashil) yang berfungsi sebagai pemarkah subjek.
Kategori
|
Tunggal
|
Dual
|
Jamak
|
|||
Fem.
|
Mask.
|
Fem.
|
Mask.
|
Fem.
|
Mask.
|
|
Orang III
|
تَكْتُبُ
|
يَكْتُبُ
|
تَكْتُبَانِ
|
يَكْتُبَانِ
|
يَكْتُبْنَ
|
يَكْتُبُوْنَ
|
هي
|
هو
|
هما
|
هنّ
|
هم
|
||
Orang II
|
تَكْتُبِيْنَ
|
تَكْتُبُ
|
تَكْتُبَانِ
|
تَكْتُبِينَ
|
تَكْتُبُوْنَ
|
|
أنتِ
|
أنتَ
|
أنتما
|
أنتنّ
|
أنتم
|
||
Orang I
|
أَكْتُبُ
|
نَكْتُبُ
|
||||
أنا
|
نحن
|
|||||
c.
Derivasi
verba trikonsonantal (al-tashri:f al-isthila:hi: tsula:tsi: mazi:d)
Makna verba trikonsonal derivative
ditentukan oleh afiks-afiks yang menyandangi verbanya.
No.
|
Verba pervektif
|
Verba impervektif
|
1.
|
فعّل
|
يفعّل
|
2.
|
فاعل
|
يفاعل
|
3.
|
أفعل
|
يفعل
|
4.
|
تفاعل
|
يتفاعل
|
5.
|
تفعّل
|
يتفعّل
|
6.
|
افتعل
|
يفتعل
|
7.
|
انفعل
|
ينفعل
|
8.
|
افعلّ
|
يفعلّ
|
9.
|
استفعل
|
يستفعل
|
10.
|
افعوعل
|
يفعوعل
|
11.
|
افعالّ
|
يفعالّ
|
12.
|
افعوّل
|
يفعوّل
|
d.
Verba kuadrikonsonantal derivative
Verba kuadrikonsonantal derivative berarti verba tersebut memiliki
empat konsonan sebagai akar, dengan tambahan afiks, yang menentukan makna dari
verba tersebut.
No.
|
Verba
perfektif
|
Verba
imperfektif
|
1.
|
تفعلل
|
يتفعلل
|
2.
|
افعللّ
|
يفعللُّ
|
3.
|
افعنلل
|
يفعنلل
|
[1] Syarif Hidayatullah, Moh, Abdullah.
2010. Pengantar Linguistik Bahasa Arab (Klasik Modern). Hal 84
[2] Alwi, Hasan. 2003. Tata Bahasa
Baku Bahasa Indonesia. (edisi ketiga). Hal 31
[3] Arifin, Zainal. Morfologi
(Bentuk, Makna, dan Fungsi). Google book
[4] Chaer, Abdul. 2008. Morfologi
Bahasa Indonesia. Hal 106
[5] Alwi, Hasan. 2003. Tata Bahasa
Baku Bahasa Indonesia. (edisi ketiga). Hal 32
[6] Syarif Hidayatullah, Moh, Abdullah.
2010. Pengantar Linguistik Bahasa Arab (Klasik Modern) hal 85
[7] Kridalaksana, Harimurti.
2009. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Hal 31

Komentar
Posting Komentar