Afrika dalam Penantian Asia


Tumbuh di tengah-tengah keluarga yang membiasakan hidup mandiri membuatku terbiasa melakukakan segala sesuatu sendiri. Awalnya aku sempat merasa individual, tapi ternyata itu sebuah proses mencari kepercayaan diri. Sejak lulus dari sekolah dasar, aku tinggal di Pesantren. Beruntung sekali, meskipun aku berada dikeluarga yang terbatas secara financial, tapi kedua orang tuaku tak pernah melarang dan membatasi cita-citaku. Orang tuaku selalu menasihati dan menyemangatiku bahwa, “kemiskinan itu bukanlah penghalang untuk menuju kesuksesan, miskin bukan berarti tidak bisa melanjutkan sekolah, soal biaya jangan khawatir, Allah masih kaya, jangan lupa berdo’a dan berusaha”.

            Sebelumnya tak pernah tebersit sekali pun di pikiranku aku bisa menginjakkan kakiku dan melanjutkan pendidikanku di UIN Syarif Hidayatullah. Seperti tidak mungkin, aku menaruh harapan besar untuk bisa menempuh jenjang di Universitas terkenal di negeriku ini. Semua ini berawal dari sebuah cita-cita untuk dapat bersekolah dengan setinggi mungkin. Karena hanya dengan pendidikan tinggilah orang-orang bisa lebih dihargai dan memiliki pemikiran maju. Dengan pemikiran maju itulah dapat membuat perubahan di dunia agar bisa menjadi lebuh baik. Dan aku ingin menjadi salah satu tokoh yang bisa berpengaruh terhadap dunia agar bisa membawa perkembangan dunia kearah yang lebih baik.
            MEI 2010 MERUPAKAN awal titik perjuanganku melangkah mencoba mencari jalan agar bisa kuliah tanpa harus membebani orang tua. Mungkin saat itu hanya akulah yang berbeda dari teman yang lainnya. Di saat teman-teman yang lainnya sibuk membicarakan kampus, aku hanya bisa diam menjadi pendengar setia. Bukan karena aku tidak ingin kuliah, tapi aku sadar kalau orang tuaku tidak mungkin bisa membiayai kuliahku nanti.
            Suatu saat aku dan Fatur (teman sekelasku di XII Pa1) dipanggil wali kelas Pak Jamanhuri untuk menghadap ke kantor guru. Beliau menawari kami bantuan pendidikan s1 di STAIN Jember. Di lain hari datang juga surat dari kakakku di Jakarta yang menawarkan beasiswa bidikmisi. Dengan berbagai pertimbangan dan diskusi dengan orang tua, bermodal bismillah aku mulai mengurus berkas-berkas persyaratan beasiswa bidikmisi.
            Di hari-hari menunggu pengumaman seleksi bidikmisi, apapun hasilnya, baik lulus atau belum, aku tetap berangkat ke Jakarta. Rencana kedua seandainya bidikmisi ini tidak lulus, aku akan cari kampus lain sambil bekerja untuk menopang biaya pendidikanku.
:) :) :)

            PENGUMUMAN BEASISWA BIDIKMISI pun tiba. Syukur Alhamdulillah aku benar-benar tak percaya; aku diterima di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan jurusan Tarjamah Fakultas Adab dan Humaniora. Ya, aku akan menempuh pendidikan di kota metropolitan yang sebelumnya belum pernah kukunjungi sekalipun. Langsung kukabari kedua orang tuaku di rumah. Alhamdulillah, Allah menjawab semua do’a, usaha, dan ikhtiar kami. Sungguh saat itu aku benar-benar menyadari bahwa memang selalu ada jalan jika mau bersungguh-sungguh dan nikmat Allah sungguh benar-benar tak terkira.
            Kini impianku tentang masa depan bukan lagi khayalan milik orang-orang yang putus asa. Aku akan menjejak tanah Asia-Afrika nan jauh disana, insyaallah. Tidak ada sesuatu yang mustahil jika Allah sudah berkehendak. Selama kita memiliki harapan dan tidak takut untuk bermimpi maka segalanya akan menjadi mungkin. [] 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer