“secarik kenangan masa lalu”*


Ketika aku berumur 4 tahun, aku nggak punya keinginan untuk masuk sekolah. Aku masih ingin bermain dan terus bermain dari pagi sampai sore. Saat itu, aku beranggapan sekolah itu nggak enak. apalagi dulu banyak yang bilang kalau guru-guru di sekolah itu galak, disiplin dan dan  kalau terlambat pasti dimarahin.
            Ternyata, saudaraku dari adiknya ibu pengen sekolah TK meskipun orang tuanya sibuk. Akhirnya, dia disekolahkan, Tetapi dia nggak mau sendiri. Oleh karena itu, aku diajak sekolah bareng  bersama saudaraku  itu. Akhmad subkhan namanya. Eentah kenapa, dia ingin ditemenin sama aku. hhmm ... mungkin karena kami sering main bersama.
            Meski begitu, aku keukeuh  nggak mau sekolah. Bahkan, ketika bibiku merayu, aku tetap bergeming dan  tak menghiraukan bujukan itu, sampai-sampai saudaraku menangis merengek kepadaku. Saat itupun, orang tuaku juga bingung. Bagaimana merayuku agar mau sekolah.
            Akhirnya, aku mau sekolah. Karena pulang pergi bakal diantar pakai motor. Maklumlah, dulu jarang sekali yang punya motor. Hanya beberapa orang saja termasuk bibiku. Dia seorang juragan cabai, orang tajir di kampung halamanku. Bukan hanya itu, aku juga dikasih uang jajan setiap hari.
             aku mau sekolah, tapi karena orang tuaku juga sibuk. Orang tuaku seorang petani yang bekerja di sawah. Apalagi bapak, setelah sholat subuh lalu melakukan aktifitas, seperti biasa yaitu mempersiapkan keperluan ke sawah. Yah, kira-kira jam setengah 6 pasti bapak sudah berangkat dan  ibu juga membantu bapak di sawah, tapi berangkatnya agak siangan. Karena ibu menyiapkan keperluan anak-anaknya terlebih dulu dan menyiapkan makan siang untuk bapak.
            Memang, bila tak punya keinginan pasti nggak akan bertahan lama. Nyatanya, ketika aku masuk sekolah, aku merasakan tidak nyaman, tidak betah, dan aku tidak pengen masuk sekolah lagi. Walhasil, aku Cuma sekolah TK selama 3 hari saja.
            Hari itu tepatnya hari rabu, aku nggak mau berangkat sekolah lagi, entahlah, apa yang aku rasakan tapi aku ngerasa nggak betah sekali dan nggak mau meneruskan sekolah lagi. Pas bibi dan saudaraku datang untuk menjemput, aku malah lari masuk kamar. Seperti sebelumnya, aku dibujuk agar mau sekolah, tapi tetap nggak mau. Sebelumnya aku bisa dirayu, mungkin pada waktu itu. tapi sekarang, aku benar-benar nggak bisa dibujuk untuk sekolah lagi. Bahkan, saudaraku juga nggak mau sekolah gara-gara aku nggak mau berangkat sekolah, tapi aku tetap cuek aja. Aku nggak mau masuk sekolah TK, maunya masuk sekolah SD.
            Tapi, aku tidak bisa seenaknya saja bisa masuk SD karena belajar mengajar di SD sudah dimulai dan otomatis pendaftaran sekolah juga sudah ditutup. Akhirnya aku menunggu satu tahun.
            Penantianku pun akhirnya, datang juga. Aku didaftarkan sekolah SD oleh bapak dan aku duduk sambil menunggu panggilan oleh guru.
             Setelah keluar dari ruangan bapak mengajakku pulang dan bilang kepadaku kalau aku tidak bisa masuk SD karena umur masih 5 tahun. Seketika itu, aku pun langsung menangis karena aku ingin masuk SD juga. Kemudian, bapakku balik lagi ke ruangan tersebut dan bilang ke guru bagian pendaftaran yang tadi kalau aku dititipkan saja agar aku bahagia. Akhirnya, aku masuk SD. Setelah hari demi hari, bulan demi bulan, aku bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan nilaiku rata-rata bagus. Akhirnya, aku naik kelas dua dan melanjutkan sekolah dasar sampai selesai, meskipun aku paling muda di antara semuanya.
*Penulis adalah mahasiswa Tarjamah Semester 5 Asal Brebes.

Komentar

Postingan Populer