SEMANGAT MENGHAFAL*


Sore itu ibuku marah sekali. Sapu lidih untuk menyapu pelataran rumah sudah dipegang, ia ingin memukulku dan aku pun lari ke luar rumah karena takut terkena sabetan sapu lidih. Memang beberapa hari yang lalu ibu pernah bilang agar aku menghafalkan surat-surat pendek dan doa-doa harian untuk perlombaan minggu esok di balai kelurahan dalam rangka memperingatan tahun baru Islam. Yaah karena bandelnya diriku dan lebih mementingkan bermain dari pada menghafal maka akupun terbata-bata ketika dites ibu.
            Sebenarnya aku sudah menghafalnya tapi belum lancar saja karena sebelum pengajian dimuali surat-surat pendek itu selalu dibaca bersama-sama. Sedangkan doa-doa hariannya pun sudah lumayan banyak  yang ku hafal. Mungkin aku grogi dan jarang mengulang-mengulang hafalanku, setiap kali dites oleh ibu aku selalu terbatah-bata untuk mengucapkannya dan pada waktu itu memori hafalanku seolah-olah hilang begitu saja, mungkin terbawa perasaan takut dan gugup kepada ibu. Bayangkan saja setiap kali ibu mengetesku selalu memegang sapu lidih.
            Waktu itu aku masih berusia 4 tahun dan belum duduk di bangku sekolah. Tapi sejak umur 3 tahun aku sudah mulai mengaji kepada pamanku yang rumahnya tak jauh dari rumah. Memang perlombaan itu diperuntukan bagi BALITA (bayi dibawah lima tahun) dan perlombaan itu rutin diadakan tiap tahun. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana hafalan anak-anak di kampungku dan memompa semangat anak-anak untuk menghafal. Aku dan teman-teman pun semangat untuk menghafal karena hadiah yang dijanjikan oleh panitia tidak main-main yaitu sepeda roda dua yang kami idam-idamkan. Yah namanya anak-anak, kalau hadiahnya biasa saja ya biasa juga menghafalnya, tapi kalau hadiahnya sudah menggiurkan seperti itu maka semangat sekali mereka menghafalnya.
            Sore itu aku kabur kelapangan bermain. Di sana sudah kumpul beberapa temanku, karena kegiatan rutin kami setiap sore adalah bermain sepok bola di lapangan. Dengan nafas tersendak-sendak aku langsung menghampiri teman-temanku. Salah satu teman bertanya kepadaku “kenapa loe? kaya abis liat setan aja, sampe ngos-ngosan gitu”. “abis diomelin sama ibu gue” dengan nafas yang masih tersendak-sendak, “kenapa?” Tanya temanku penasaran. “gue belum hafal surat pendek buat lomba besok”, mereka pun tertawa mendengar itu dan mulai meledekku karena aku belum hafal surat pendek dan doa harian. Bahkan salah satu temanku yang umurnya lebih tua setahu dariku meledekku kalo adiknya yang berumur  3 tahun saja sudah menghafalnya dan lancar melalkannya. Semakin kencanglah tawa mereka karena meledek ku yang belum hafal.
            Setelah bermain bola aku tidak langsung pulang ke rumah karena masih takut sampai di rumah dimarahi ibuku. Aku terus berpikir jawaban apa yang aku berikan kalau nanti ditanya apakah aku sudah hafal atau belum dan aku khawatir bagaimana melihat expresi kemarahan ibuku ketika sampai di rumah. Lama-lama pun aku memutuskan untuk pulang saja selain pakaian ku sudah kotor dan perutku sudah berdemo karena kelaparan, masalah dimarahi atau tidak bagaimana nanti saja di rumah. Di jalan pun aku sudah terbayang untuk masuk rumah lewat pintu belakang saja dan langsung masuk kamar mandi supaya ibuku tidak melihatku masuk ke rumah dan ku pikir cara ini akan berhasil.
            Semsampainya di rumah aku langsung ke pintu belakang, berjalan pelan-pelan dan merunduk agak kebawah agar ibuku tidak melihatku. Ketika aku ingin membuka pintu belakang dan ternyata pintunya tidak terkunci, wah step pertama berhasil kemudian ku buka pintu itu. Tanpa disadari olehku ternyata ibu sedang di dapur membuat minuman untuk saudaraku yang baru saja datang. Ketika ibu melihaku sedang merunduk ingin masuk ibupun langsung menegurku dan bertanya dari mana saja kamu. Dengan polos aku menjawab habis main sepak bola, tapi yang aneh ibu tidak marah dan lansung menyuruhku mandi. aku selamat, mungkin karena ada saudaraku, ibu terburu-buru ingin menememaninya dan melupakan kemarahannya yang tadi. Akupun langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi.
            Setelah mandi aku langsung bergegas pergi ke masjid untuk shalat jamaah magrib, setelah itu aku melanjutkan pergi ke rumah pamanku untuk mengaji. Seperti biasa sebelum mulai mengaji kami selalu mebaca surat pendek bersama-sama. Waktu itu aku aku memilih untuk duduk di lekar (meja dampar untuk mengaji) paling depan, walaupun biasanya aku duduk di belakang bersama teman-teman geng ku karena aku senang bercanda dan bermain. Jadi ketika membaca surat-surat pendek kami lebih sering becanda dari pada membacanya bersama. Taman-teman geng ABK (anak belakang) pun bingun dengan ku sore itu. Dan mereka bertanya kenapa aku dududk di depan. Aku diam saja dan tidak menjawab.
            Mulai saat itu aku bertekad untuk selalu duduk di lekar paling depan agar aku serius menghafal surat pendek dan agar aku lebih serius ketika mangaji. Aku pun mulai serius menghafal karena perlombaan tinggal  4 hari lagi dan aku tidak ingin melihat kedua orang tuaku malu karena aku tidak hafal surat pendek dan doa harian. Sejak sore itu aku pun mebawa buku juz ‘ama terjemahan kecil kemanapun aku pergi kecuali ke kamar mandi. awalnya buku itu bagus dan rapih karena disampul oleh ibuku, karena sering ku bawa dan kumasukan di dalam saku buku itupun lecek, kusam, dan sampulnya mulai sedikit robek. Yah namanya juga anak-anak.
            Perjuangan yang kulakukkan beberapa hari itu pun membuahkan hasil lumayan, siang malam yang ku baca hanya surat pendek dan doa harian. Sampai waktu bermain ku pun agak kukurangi untuk menghafal dan melancarkan hafalan. Setiap selesai mengaji dengan paman aku selalu meminta ia untuk mengetes hafalanku dan membenarkan cara bacaanku dan tajwidnya. kemudian selain lancar hafalan, aku pun tau nama suratnya dan mengerti sedikit terjemahan ayat-perayat. Mulai saat itu aku mulai percaya dengan pepatah berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Karena aku merasa ketika kita mau berusaha pasti akan diberikan jalan keluar oleh Allah Swt dan itu kurasakan. Akupun agak sedikit lega karena sudah lancar untuk perlombaan hari minggu. Dan aku yakin walaupun aku tidak juara, kedua orang tua ku akan bangga kepada ku.
            Hari yang dinanti-nanti pun datang, setelah shalat subuh berjama’ah aku langsung mandi dan bersiap-siap berangkat ke balai kelurahan. Padahal acara baru akan dimulai jam delapan pagi tapi karena sangat bersemangat aku datang pagi-pagi sekali. Pagi itu suasana balai kelurahan terlihat berbeda, suasananya ramai sekali. Kebetulan bukan saja perlombaan hafalan surat pendek dan do’a harian, tapi berbagai macam lomba diadakan untuk memperingati tahun baru Hijriah. Semua orang di kampung kelihatannya berkumpul di balai kelurahan, ada yang hanya ingin melihat perlombaan saja, ada yang ingin menyaksikan anak mereka berlomba, dan lain sebagainya.
            Waktu yang ditunggu-tunggu pun datang. Anak-anak yang menjadi peserta mulai maju satu persatu, kebetulan aku mendapat urutan yang tidak terlalu di depan dan di belakang ya tengah-tengah. Aku mendapatkan nomor urut 15 dari 30 peserta. Lomba kali ini ada yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Panitia lebih kreatif dalam mengemas lomba tahun ini. Selain makhroj dan tajwid yang dinilai, ada sistem baru yaitu pengambilan amplop terlebih dahulu sebelum peserta maju, tujuannya agar peserta tidak tahu surat mana saja yang harus dibaca dan itu akan benar-benar menguji sejauh mana kuatnya hafalan sang anak. Kemudian ditambah dengan peserta harus meneruskan ayat yang dibacakan oleh dewan juri dan menerjemahkan yang dia ketahui. Ketika mendengan peraturan itu aku agak sedikit lega dengan persiapanku yang meksimal beberapa hari ini.  Ya mudah-mudahan saja aku bisa menjawab semua pertanyaan dewan juri dan meperlihatkan hal yang terbaik kepada kedua orang tuaku.
            Giliranku pun tiba, dengan berjalan agak sedikit gugup aku pun  maju untuk mengambil amplop. Ternyata aku mendapatkan amplop berwarna biru dan tadi kata teman-temanku kalo mengambil amplop yang warna biru itu suratnya sedikit susah. Tapi itu bukan masalah bagiku, aku sudah yakin bahwa aku pasti bisa dan tidak grogi menjawab pertanyaan dewan juri. Ternyata nama surat-surat yang ada di dalam amplop itu antara lain al’alaq, al’adiyat, alqariah, aljaljalah, dll. Itu termasuk surat-surat yang sulit ku lafazkan ketika itu. Juri pun mempersilahkanku untuk membaca surat al’alaq dan dengan percaya diri aku memulai untuk membaca. Alhamdulillah surat pertama ku baca dengan lancar tanpa hambatan dan seterusnya. Kemudian dilanjutkan untuk meneruskan ayat, kebetulan waktu itu aku mendapat ayat yang sering ku ulang-ulang karena salah terus dalam melafazkanny. Dengan lancar aku meneruskan ayat tadi dan menerjemahkannya. Ketika menjawab dengan mudah pertanyaan juri dan  menerjemahkannya, tampa ku sangka sorak suara pengunjung diiringi tepuk tangan mengiriku turun dari panggung.
            Akhirnya pengumumanpun diumumkan. Aku berhasil menjadi juara pertama dan mendapatkan hadiah yang diidam-idamkan teman-temanku. Mulai saat itu aku meyakini bahwa orang yang mau berusaha dengan sungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil yang diinginkannya.

*Penulis adalah Pak Press Tarjamah semester 5.

Komentar

Postingan Populer